Detail Berita

Radikalisme: Berani Mati, Karena Takut Hidup!

Ungkapan Buya Syafii tersebut menjadi statement menarik selama menghadiri acara Pertemuan Pimpinan Perguruan Tinggi se-Indonesia di Bali awal pekan ini. Praktis panggung kali ini menjadi upaya preventif mencegah persemaian radikalisme di perguruan tinggi. Tidak hanya itu, kegiatan ini sekaligus kembali meneguhkan ideologi dasar yakni Pancasila. Secara pribadi, isu radikalisme dan bahkan terorisme adalah sebuah bentuk dari simpangan pemikiran yang memandang dari sudut posisi ekstrim tentang pemahaman kepercayaan dan keagamaan. Bagaimanapun, kemanusiaan adalah bagian yang menjadi keutamaan bersama. Tetapi, aspek pembahasan radikalisme pada forum ini memang terbatas. Tidak hanya sekedar identifikasi dan pengelompokan, tetapi kerangka radikalisme telah dipetakan oleh aparatur hukum dalam hal ini pihak kepolisian, tentu saja semoga peta yang dibuat valid dan tidak sumir. Sulit membayangkan misalnya, ketika indentifikasi radikalisme dilekatkan pada tampilan fisik semata, semisal janggut, baju koko, peci hingga berbagai hal lain yang batas identifikasinya terbilang buram. Radikalisme hendaknya diletakkan atas dasar keinginan dan motif bergerak serta bertindak secara radikal, mengatasnamakan kebenaran semu menggunakan kekerasan. Kajian yang tentu harus dititikberatkan kemudian setelah isu radikalisme dan terorisme adalah bagaimana mengatasinya diera keterbukaan informasi seperti saat ini? Pada sisi yang lain secara bersamaan, harus diformulasikan ulang tentang nilai dasar ideologi Pancasila secara membumi, selaras dengan jaman yang berlaku dan tantangan generasi baru saat ini.

Solusi Pendidikan dan Ekonomi Kemunculan radikalisme, tentu saja tidak dilepaskan dari situasi riil yang terjadi, hemat saya senjata utama dari pencegahan dan deradikalisasi, adalah mencerdaskan kehidupan dunia pendidikan kita sehingga anak-anak sebagai generasi penerus terbebaskan serta tercerahkan dari pemikiran yang sempit. Termasuk pada level perguruan tinggi, adalah membuka ruang dialog yang difasilitasi, termasuk menjadikan pengalaman langsung membawa narasi ideologi Pancasila untuk bisa ditafsir berdasarkan realitas yang terjadi secara aktual, untuk sekaligus menjawab tantangan jaman yang terjadi. Pada akar radikalisme, kerapkali dipicu atas ketidakadilan akses sumber-sumber ekonomi. Kemiskinan disertai kebodohan adalah lingkungan ideal sekaligus terbaik bagi terbentuknya radikalisme, dan hal itu berjalan seiring dengan waktu. Tengok betapa mudah hoax diproduksi dan dibagikan, dikarenakan ketiadaan budaya membaca secara utuh. Jadi selain mengedepankan aspek penanganan dan penindakan, maka edukasi dan ekonomi adalah sarana terbaik menghantarkan bangsa ini bebas dari radikalisme atas nama apapun, hingga akhirnya sampai pada gerbang kemakmuran dan kesejahteraan otak, perut dan hatinya.